Catatan Popular

Sabtu, 9 Disember 2017

HIKAM ATHAILLAH KE 34 SYARAH SYEIKH RIJAL : Keluarlah Dari Sifat Basyariyyah

Menurut Kalam Hikmah ke 34 Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary:

اُخْرُجْ من اَوْصافِ بَشاَرِيَّتِكَ عن كلِ وَصْفٍ مُنَا قِضٍ لِعُبُودِيَّتِكَ لِتَكُونَ لِنِدَاءِ الحَقِّ مُجِيبًا ومنْ حَضـْرَتِهِ قـَريْباً

"Among the attributes of your human nature, draw away from every one that is incompatible with your servanthood, so that you may be responsive to the call of God and near His Presence"


"Keluarlah dari sifat-sifat kemanusian-mu [sifat buruk dan rendah], semua sifat yang menyalahi kehambaan-mu, supaya mudah bagimu untuk menyambut panggilan Alloh dan mendekat kepada-Nya."

Syarah :

Sifat-sifat manusia terbagi jadi dua yaitu :Lahir dan Bathin.

Sifat lahir ialah yang berhubungan dan dilakukan dengan anggota jasmani, dan sifat bathin ialah berlaku dalam hati [rohani].
Sedang yang berhubungan dengan anggota lahiriyah juga terbagi dua:
Yang sesuai dengan perintah syari'ah dan yang menyalahi perintah syari'ah yang berupa maksiat.

Demikian pula yang berhubungan dengan hati juga terbagi dua :
Yang sesuai dengan hakikat [kebenaran] bernama iman dan ilmu, dan yang berlawanan dengan hakikat [kebenaran] berupa nifaq dan kebodohan.

Sifat-sifat yang buruk [rendah] ialah : Hasad, iri hati, dengki, sombong, mengadu domba, merampok [korupsi], gila jabatan, ingin dikenal, cinta dunia, tamak, rakus, riya dan lain-lain.

Dan dari sifat-sifat buruk ini akan menimbulkan sifat permusuhan, kebencian, merendahkan diri terhadap orang kaya, menghina orang miskin, pandai menjilat, sempit dada, hilang kepercayaan terhadap jaminan Allah, kejam, tidak malu dan lain-lain.

Apabila seseorang telah dapat menguasai dan membersihkan diri dari sifat-sifat yang rendah, yang bertentangan dengan kehambaan itu, maka pasti ia akan sanggup menerima dan menyambut tuntunan Tuhan, baik yang langsung dalam ayat-ayat al-Qur'an dan yang berupa tuntunan dan contoh yang diberikan oleh Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam.
Dan dengan demikian berarti ia telah mendekat kehadirat Alloh subhanahu wata'ala.

Sifat Ubudiyah [kehambaan] ialah mentaati semua perintah dan menjauhi semua larangan, mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan tanpa membantah dan merasa keberatan.

Ingatlah sesungguhnya Hakikatnya suluk yaitu,berusaha untuk membersihkan hati dari akhlaq yang tercela, lalu dihiasi dengan akhlaq yang baik dan terpuji, dan ini semua tidak akan berhasil kecuali mendapat pertolongan dari Alloh.

Sehingga bisa mengetahui sifat-sifat jelek yang ada pada dirinya, dan selalu menaruh curiga pada nafsunya.
Berprasangka buruk pada nafsunya, sehingga Syeih Ibnu ‘Atho’illah dawuh pada hikmah selanjutnya.

Lanjutan Penjelasan ...


"Keluarlah dirimu dari sifat-sifat kemanusiaanmu, dari sifat-sifat yang berlawanan dengan kedudukanmu sebagai seorang hamba Tuhan. Agar dengan demikian engkau bisa mendengar dan merespon panggilan Kebenaran, dan dekat kepadanya."


Mari kita hayati kebijaksanaan Syekh Ibn Athaillah ini
Manusia berada dalam suatu situasi dan kedudukan yang tak boleh ia lupakan : kedudukan sebagai hamba.

Inilah yang disebut dengan kedudukan ‘ubudiyyah.
Kedudukan ini mengandung sejumlah konsekuensi.
Salah satu konsekuensi terpenting ialah seseorang harus berusaha keras melawan kecenderungan-kecenderungan buruk dalam dirinya yang berlawanan dengan posisi ‘ubudiyyah itu.

Dalam diri manusia ada suatu karakter yang oleh Syekh Ibn Ahtaillah disebut dengan sifat-sifat basyariyyah, yaitu sifat manusia sebagai tubuh dan jasad yang memiliki kehendak dan hasrat yang jika tak dikendalikan bisa merusak. Misalnya: sifat basyariyyah atau kejasadan manusia meniscayakan dia untuk makan, minum, dan melakukan kegiatan seksual. Jika hasrat semacam ini tidak dikontrol, dilepaskan begitu saja, tentu dia bisa merusak manusia bersangkutan.

Salah satu watak basyariyyah manusia yang lain ialah sifat-sifat seperti kesombongan, kedengkian, keirian, dsb. Sifat-sifat ini jelas berlawanan dengan kedudukan manusia sebagai hamba.
Sifat sombong, misalnya, jika dibiarkan tanpa di-cek dan dikontrol, bisa membuat manusia merasa besar kepala, memandang dirinya seperti Tuhan, dan mengambil alih wewenang-Nya.

Dengan sikap seperti ini, dia sudah meninggalkan kedudukannya sebagai seorang hamba. Ini sudah sering kita lihat dalam sejarah kekuasaan manusia: seorang penguasa despot bertindak layaknya seorang Tuhan.

Sifat sombong hanyalah layak untuk Tuhan saja. Ini bukan berarti bahwa Tuhan akan berlaku sombong dan sewenang-wenang dengan melanggar hukum moral. Bukan.

Ajaran tentang sifat sombong yang hanya milik Tuhan ini sebetulnya hendak mengajari manusia bahwa sebagai seorang hamba, sifat semacam itu tidak cocok. Sifat yang cocok dengan kehambaan manusia ialah kerendah-hatian, “humility”.

Lanjutan Penjelasan ...


Sifat Basyariyyah dan ‘Ubudiyyah tidak saling cocok satu dengan yang lain.
Sementara sifat basyariyyah membuat manusia cenderung menuruti hasrat-hasrat buruk dalam diri manusia, kedudukan ‘ubudiyyah atau kehambaan manusia justru menuntutnya untuk bertindak sebaliknya: yaitu bertindak benar sesuai dengan hukum kebenaran yang bersumber dari Tuhan.

Karena itulah, manusai harus bisa melepaskan pelan-pelan dari sifat-sifat basyariyyah itu, dan menghiasi diri dengan sifat-sifat insaniyyah, yaitu kemanusiaan.
Dengan karakter basyariyyah-nya, manusia sebetulnya tidak berbeda jauh dengan binatang.
Hanya dengan sifat insaniyyah atau kemanusiaan lah manusia memisahkan diri dari binatang, menjadi makhluk yang bermoral, menjadi ciptaan yang dalam dirinya ada “cahaya tawajjuh”, cahaya fitrah yang menuntunnya kepda Yang Maha Benar.

Lanjutan Penjelasan ...


Dua ciri dasar watak basyariyyah manusia yang sekaligus menjadi kelemahan pokoknya bisa dikembalikan ke dua hal pokok.
Yang pertama ialah sifat-sifat kebinatangan (akhlaq al-baha’im) seperti hasrat untuk makan, minum, dan mencintai hal-hal keduniaan yang lain.

Yang kedua adalah sifat-sifat setan, seperti sikap sombong, menolak mengakui kebenaran (al-bathar), sikap kasar kepada orang lain (al-fazazah), kikir, jumawa, dsb.

Sifat-sifat itu biasanya disebut sebagai cacat dan kelemahan dalam jiwa manusia (‘uyub al-nafs).
Sifat-sifat ini, jika tidak dihalau jauh-jauh dari rohani dan jiwa manusia, akibat yang akan timbul ialah: manusia itu akan melupakan kedudukannya sebagai seorang hamba, dan gagal naik ke tingkatan yang lebih tinggi, yaitu menjadi insan atau manusia yang mengandung roh ketuhanan dalam dirinya.
Dia akan mandeg sekedar hanya menjadi “basyar” atau manusia-tubuh, bukan manusia-rohani.
Manusia-tubuh tak beda jauh dengan binatang pada umumnya.

Pelajaran yang bisa kita petik dari sini ialah: Kita harus terus-menerus bisa menghayati kedudukan kita sebagai hamba.

Kedudukan ‘ubudiyyah yang melekat pada kita. Dengan menghayati kedudukan ini, dengan dengan sungguh-sungguh merefleksikannya, kita akan bisa terbebas dari kondisi basyariyyah, menuju kepada kondisi insaniyyah; dari level tubuh dan jasad belaka, menjadi roh yang memancarkan kebenaran Tuhan.


HIKAM ATHAILLAH KE 34 SYARAH SYEIKH ABDEL MAGUUEB AL AZHARY : KELUARKAN SIFAT YANG BERCANGGAH

Menurut Kalam Hikmah ke 34 Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary:

 “ Keluarkan dari sifat-sifat manusia anda setiap sifat yang bercanggah dengan status anda sebagai perhambaan, supaya anda mampu untuk menjawab panggilan Tuhan, dan datang dekat kepada-Nya”

Sifat-sifat manusia  sama ada yang nyata dan fizikal, atau tersembunyi di dalam hati.

Kedua-dua boleh berada dalam ketaatan atau kemaksiatan.

Memerhatikan sama ada tindakan fizikal jelas berada dalam ketaatan dipanggil [Fiqh], dan memerhatikan apa yang berkaitan dengan hati atau qalb adalah 'tasawuf.

Dan apabila hati diletakkan betul, yang jelas akan juga diletakkan betul, untuk hati adalah raja, dan badan adalah seperti tentera yang tidak akan menderhaka .

Hati diletakkan dengan betul dengan mengecam semua sifat-sifat yang bercanggah perhambaan (seperti sifat Muluk, kemegahan diri, munafik dan sebagainya), dan dengan menerima sifat-sifat mulia yang membawa lebih dekat dengan Tuhan  (seperti kesopanan, kesabaran, taubat, redha, ikhlas dalam pengabdian, dan sifat-sifat lain yang melalui keimanan  pasti tercapai).

Jika [mureed]ini  mempunyai sikap mulia, dia akan menjadi orang yang benar dalam mengesahkan  sebagai perhambaan . (Ini adalah perhambaan 'khas',

untuk perhambaan adalah dalam dua bahagian:

Perhambaan kerana memiliki, menakluk dan menundukkan pada semua makhluk adalah tertakluk kepada Nya, seperti dalam firmanNya: Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. [19:93] "

dan perhambaan khusus untuk orang yang disayangi-Nya, iaitu apa yang dimaksudkan dengan  ulamak sufi Qadi Al Ayyadd  berkata.:  dan apa yang meningkat saya dalam kehormatan, kemuliaan dan kebanggaan,  bahawa saya hampir melangkah ke atas bintang sebagai hamba nya dengan berkata   "Saya hamba"  dan bahawa Ahmad seorang nabi,

Dia akan datang lebih dekat dengan sisi-Nya [Hadra] kerana menjauhkan dari dari Nya yang didorong olehsemula jadi untuk menarik balik dan jarak dari Kehadiran [Hadra]) ini, dan ia adalah keadaan perhambaan yang mendapat keistimewaan ini.

Dan ketahuilah, bahawa "yang di sisi Tuhan [Hadra]" bermakna orang yang [abd] benar benar yakin bahawa dia sentiasa di hadapan Tuhan.

Selagi angapan ini jelas, beliau adalah di sisi Allah [Hadra], dan setiap kali ia terdinding daripada-Nya, dia tidak akan terhijab.

Dan ketahuilah, bahawa jalan ini adalah yang disetujui hanya untuk dia yang memegang tanggungjawab dan sentiasa berjaga-jaga kerana dosa itu.


HIKAM ATHAILLAH KE 34 SYARAH SYEIKH SUFI : KELUARLAH DARI SIFAT-SIFAT KEHAMBAANMU

Menurut Kalam Hikmah ke 34 Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary:

 “ Keluarlah dari sifat-sifat kemanusiaanmu (yang buruk dan rendah), dari semua sifat yang menyalahi kehambaanmu, supaya mudah bagimu untuk menyambut panggilan Allah dan mendekatkan ke hadirat Nya “.

Usahakanlah dirimu untuk selalu riyadhoh dan mujahadah kepada Allah, supaya dirimu dapat terhindar dari sifat-sifat yang tercela (hina), yaitu semua sifat yang bertentangan dengan sifat kehambaanmu, baik lahir maupun bathin. Sebab bila dirimu bisa keluar dari sifat-sifat tercela tersebut, maka kemudian dirimu bisa memiliki sifat-sifat yang terpuji. Seperti tawadhu’, khusyu’, ikhlas, dan lain sebagainya. Selain itu dirimu bisa dengan mudah mendekatkan diri pada Allah dan merasa ringan untuk beramal dan bisa tetap menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang melahirkan dosa.

Yang dimaksud dengan riyadhoh adalah menundukkan hawa nafsu hingga ia mengikuti perkara yang haq (benar). Sedangkan mujahadah adalah memerangi hawa nafsu dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah swt.


HIKAM ATHAILLAH KE 34 SYARAH USTAZ BARI : KELUARLAH SIFAT MANUSIA MU YANG BERTENTANGAN

Menurut Kalam Hikmah ke 34 Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary:

" KELUARLAH DARI SIFAT-SIFAT MANUSIAMU , DARI SETIAP SIFAT YANG BERTENTANGAN DENGAN MAKNA KEHAMBAANMU , SUPAYA ENGKAU MUDAH MENJAWAB PANGGILAN KEBENARAN DAN DEKAT DENGAN KEHADIRAN-NYA "

Pelajaran yang boleh kita diambil dari hikmah ini :

Allah swt menciptakan manusia dengan rupa yang sangat sempurna , memberikannya bekal berupa akal , hati dan perasaan yang semua itu akan diterjemahkan menjadi sikap dan perbuatan , semua sifat yang dikurniai Allah kepada manusia pada asalnya adalah sifat yang bermenafaat bagi kehidupan manusia didunia , namun kesemuanya mesti diarahkan kepada tujuan utama diciptakannya manusia , iaitu menghambakan diri kepada Allah swt.

Jika hawa nafsu menguasai kehidupan seseorang , merasa diri paling benar , lalai , kehilangan rasa takut pada Allah swt dia telah jauh dari makna kehambaan kepada Allah, RasulAllah s.a.w  bersabda :


" Tidak sempurna iman salah seorang diantara kalian sehingga hawa nafsunya tunduk kepada ajaran yang aku bawa ". : [ al-arbain al- Nawawiyah ]

Tugas berat manusia dalam menjalankan amanahnya sebagai seorang hamba menuntutnya untuk menghilangkan sifat-sifat yang tidak bersesuaian dengan darjat dirinya sebagai hamba. Dan jika rasa ketundukkan berganti dengan kesombongan , keikhlasan berganti dengan kebanggaan , penyerahan diri berganti dengan kegelisahan , adakah nilai kehambaan yang maseh tersisa ?

HIKAM ATHAILLAH KE 34 SYARAH TOK GURU BOEGIS : KELUARKAN SIFAT SIFAT KEMANUSIAAN MU

Menurut Kalam Hikmah ke 34 Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary:

 "Keluarlah dari sifat-sifat kemanusianmu [sifat buruk dan rendah], semua sifat yang menyalahi kehambaan-mu, supaya mudah bagimu untuk menyambut panggilan Allah dan mendekat kepada-Nya."
                                                      
Sifat-sifat manusia yang berhubungan dengan agama terbagi dua: Lahir dan Bathin, lahir ialah yang berhubungan dan dilakukan dengan anggota jasmani, dan bathin ialah berlaku dalam hati [rohani]. Sedang yang berhubungan dengan anggota lahiriyah juga terbagi dua: Yang sesuai dengan perintah syari'ah dan yang menyalahi perintah syari'ah yang berupa maksiat.
Demikian pula yang berhubungan dengan hati juga terbagi dua: Yang sesuai dengan hakikat [kebenaran] bernama iman dan ilmu, dan yang berlawanan dengan hakikat [kebenaran] berupa nifaq dan kebodohan. Sifat-sifat yang buruk [rendah] ialah: Hasad, iri hati, dengki, sombong, mengadu domba, merampok [korupsi], gila jabatan, ingin dikenal, cinta dunia, tamak, rakus, riya dan lain-lain.
Dan dari sifat-sifat buruk ini akan menimbulkan sifat permusuhan, kebencian, merendahkan diri terhadap orang kaya, menghina orang miskin, pandai menjilat, sempit dada, hilang kepercayaan terhadap jaminan Allah, kejam, tidak malu dan lain-lain.

Apabila seseorang talah dapat menguasai dan membersihkan diri dari sifat-sifat yang rendah, yang bertentangan dengan kehambaan itu, maka pasti ia akan sanggup menerima dan menyambut tuntunan Tuhan, baik yang langsung dalam ayat-ayat al-Qur'an dan yang berupa tuntunan dan contoh yang diberikan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Dan dengan demikian berarti ia telah mendekat kehadirat Allah subhanahu wata'ala.


Sifat Ubudiyah [kehambaan] ialah mentaati semua perintah dan menjauhi semua larangan, mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan tanpa membantah dan merasa keberatan.

HIKAM ATHAILLAH KE 34 SYARAH USTAZ BESTARI : MENGHAMPIRKAN DIRI KEPADA ALLAH DENGAN MEMBUANG SEGALA SIFAT MAZMUMAH

Menurut Kalam Hikmah ke 34 Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary:

Mafhumnya : Keluarlah anda daripada sifat-sifat kemanusiaan,serta dari segala sifat yang bercanggah dengan ubudiyah anda,supaya dengan itu anda berupaya menyahut perintah Tuhan anda Yang Maha Benar serta dapat menghampirkan diri kepadaNya.

Sifat basyariyah atau kemanusiaan adalah sesuatu yang lumrah atau lazim kepada manusia,akan tetapi apabila sifat kemanusiaan itu dicemari dengan sifat-sifat mazmumah atau tercela,ia akan menjauhkan seseorang itu dengan tawfiq dan hidayah Allah.Malah sifat basyariyah itu disebut oleh al-Quran dengan jelas terang lagi nyata.Ia adalah suatu keharusan dan kelaziman.Firman Allah :
  
Mafhumnya :Katakanlah (wahai Muhammad ) “Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu,diwahyukan kepadaku bahawa Tuhan kamu hanyalah Tuhan Yang Satu,( Surah al-Kahf ayat 110 )

Al-Imam Abu Hamid al-Ghazzali rh di dalam adikaryanya `Ihya` ‘Ulum al-Din telah mengemukakan 8 bab khusus mengenai sifat-sifat mazmumah ( tercela ) yang diistilahkan olehnya sebagai al-muhlikat atau perkara-perkara yang membinasakan yang meliputi ;
  1. sifat mazmumah serta nafsu syahwat yang berpunca daripada keinginan perut dan kemaluan,
  2. sifat mazmumah yang berpunca daripada lidah,
  3. sifat mazmumah yang berkaitan dengan kemarahan,busuk hati dan kedengkian,
  4. sifat mazmumah yang membabitkan kecelaan dan tipudaya dunia,
  5. sifat mazmumah yang berpunca daripada kerakusan terhadap harta dan sifat kikir,
  6. mazmumah daripada sifat riya` dan bermegah-megah,
  7. mazmumah takabbur dan ‘ujub,
  8. mazmumah akibat terpedaya dan kelalaian.
Rasulullah SAW menukilkan gambaran yang jelas tentang sifat-sifat mahmudah atau terpuji yang menjadi bekas,bejana atau wadah untuk menghampirkan diri kepada Allah.Sebaliknya sifat-sifat tercela akan menjauhkan seseorang itu daripada Allah.Semua sifat-sifat itu berkembang didalam hati sanubari seseorang yang menentukan kedudukan keimanan dan ketaqwaannya.Di sini dikemukakan hadis-hadis Rasulullah SAW yang menerangkan natijah daripada kedua-dua sifat itu :
  1. Rasulullah SAW bersabda : 
Mafhumnya : Sesungguhnya terhasil daripada dunia itu bala` dan fitnah dan perumpamaan amal perbuatan seseorang itu seperti bejana ( bekas ).Apabila baik bahagian atasnya maka akan baik juga bahagian bawahnya.Demikian juga apabila jelek bahagian atasnya maka akan jelek juga bahagian bawahnya.( Riwayat dari Ibn Majah )
  1. Rasulullah SAW bersabda lagi : 
Mafhumnya : Satu-satunya kaedah untuk menghampirkan diri kepada Allah yang dilaksanakan oleh orang-orang yang menghampirkan diri kepada Allah ialah dengan menunaikan apa yang telah aku wajibkan keatas mereka. ( Hadis riwayat Imam al-Bukhari daripada Abu Hurairah r.a. )
  1. Sabda Rasulullah SAW ; 
Mafhumnya : Hati-hati itu ada empat jenis:
  1. i.  Hati yang bersih jernih di dalamnya terdapat lampu yang bersinar cemerlang,itulah hati seorang mu`min,
  2. ii.  Hati yang hitam terbalik,itulah hati seorang kafir,
  3. iii. Hati yang terbungkus serta terikat bungkusannya,itulah hati seorang munafik,
  4. iv. Hati yang melintang,di dalamnya bercampur baur keimanan dan kemunafikan.

( Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan al-Tabrani daripada Abu Said al-Khudri r.a. ,dipetik daripada kitab Ihya` ‘Ulum al-Din oleh Imam al-Ghazzali rh )

HIKAM ATHAILLAH KE 34 SYARAH TOK FAKIR AN NASIRIN : SIFAT YANG MENYALAHI UBUDIYAH

Menurut Kalam Hikmah ke 34 Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary:

KELUARLAH DARI SIFAT-SIFAT KEMANUSIAAN YANG BERTENTANGAN DENGAN UBUDIYAH SUPAYA MUDAH BAGI KAMU UNTUK MENYAHUT PANGGILAN ALLAH  DAN MENDEKAT KE HADRAT-NYA.

Hikmat 34 menyingkap tentang hijab-hijab. Melalui huraian ternyata betapa sukarnya untuk melepasi hijab-hijab sebelum sampai kepada Allah s.w.t. Hikmat 34 ini memberi panduan untuk melepasi halangan dan mendekat kepada-Nya. Kita diajak supaya melepasi sifat-sifat kemanusiaan yang menyalahi ubudiyah. Sifat ubudiyah yang sejati ialah sifat malaikat kerana malaikat adalah hamba Allah s.w.t yang paling tepat melaksanakan perintah-Nya. Sifat yang paling menyalahi ubudiyah ialah sifat iblis kerana iblislah yang paling derhaka kepada Allah s.w.t. Jadi, Hikmat ini boleh membawa maksud, keluarlah dari sifat-sifat iblis dan masuklah kepada sifat-sifat malaikat supaya kita boleh melaksanakan tuntutan Allah s.w.t dengan tepat dan kita dapat mendekat ke Hadrat-Nya. Dalam diri manusia ada sifat-sifat malaikat dan ada pula lawannya iaitu sifat-sifat iblis. Mesti dibuat pengasingan di antara kedua-dua jenis sifat tersebut. Mesti diistiharkan jihad terhadap iblis yang menyalurkan sifat-sifatnya ke dalam diri kita.

 Sifat-sifat iblis, sekiranya disenaraikan, sangatlah banyak. Sudah memadai jika dirumuskan bahawa apa juga yang menyekat atau melengahkan kita daripada menyempurnakan tuntutan Allah s.w.t adalah berpunca daripada sifat iblis. Jalan untuk menghapuskan sifat-sifat yang demikian ada dua, iaitu jalan panjang dan satu lagi, jalan singkat. Jalan panjang adalah mengenal satu persatu semua sifat buruk itu, mempelajari cara ia bertindak, kesannya kepada diri kita, tanda kita memilikinya, cara mencegahnya sekiranya belum dijangkiti dan cara mengubatinya jika sudah dijangkiti. Jalan yang paling singkat adalah meninggalkan apa sahaja yang selain Allah s.w.t, berpegang kepada firman-Nya ayat 91, surah al-An'aam yang bermaksud:

Katakanlah, “Allah!” dan biarkan mereka bermain-main dalam kesesatan mereka.

 Penting bagi orang yang belum mencapai makam keteguhan untuk tidak mempedulikan apa yang berlaku di sekelilingnya kerana dia belum dapat memisahkan dirinya dari sifat-sifat kemanusiaan. Dia masih melihat perbuatan makhluk. Campurtangannya dalam urusan makhluk menutup pandangan mata hatinya dari Tuhan. Kekeruhan dalam kehidupan dunia akan memalapkan cahaya rohaninya. Lebih baik jika dia membenamkan dirinya ke dalam ibadat, zahirnya bersungguh-sungguh di dalam syariat dan batinnya teguh dengan iman. Ingatlah, dunia adalah puteri iblis. Sesiapa yang berkahwin dengan si puteri ini pasti si bapa akan kerap mengunjunginya.

 Sifat iblis adalah ingkar kepada kebenaran. Iblis adalah tenaga gelap. Kebenaran pula adalah cahaya. Dalam melakukan pekerjaan menghalang cahaya kegelapan iblis mengenderai kegelapan nafsu. Apabila kegelapan nafsu yang ditambahkan lagi dengan kegelapan iblis membalut hati maka hati tidak akan dapat menerima cahaya kebenaran. Balutan ini menutup mata  hati dari menyaksikan al-Haq. Sifat iblis dan sifat nafsu menjadi tenaga yang bertindak menolak sebarang kebenaran yang ingin masuk ke dalam hati.

Walaupun akal boleh mengakui kebenaran namun, tenaga sifat iblis akan menghalang hujah akal dari diterima oleh hati. Sebab itu orang yang mengakui kebenaran masih juga boleh berbuat perkara yang berlawanan dengan pengakuannya itu. Tenaga iblis dan tenaga nafsu itulah yang membentuk tenaga ingkar (kufur atau menolak kebenaran). Tenaga kekufuran ini akan menawan hati semua orang, termasuklah hati orang-orang Islam.   Kehadiran tenaga ini dalam diri mengheret seseorang kepada perbuatan fasiq, kemunafikan, kekafiran, kemusyrikan, maksiat dan segala perkara yang dimurkai Allah s.w.t.

Tenaga ingkar ini mesti dihapuskan dengan cara menekannya sekuat mungkin dengan tenaga kebenaran. Antara kebenaran yang mahu ditekankan dan dimasukkan ke dalam hati adalah pengakuan-pengakuan : “Allah Maha Suci! Allah Maha Besar! Segala puji untuk Allah! Allah Maha Esa dan tiada sesuatu yang bersekutu dengan-Nya! Tiada Tuhan melainkan Allah dan Nabi Muhammad s.a.w adalah Pesuruh Allah!”

 Bila kita menyebut Maha Suci Allah, bukan bermakna kita menyucikan Allah s.w.t. Allah s.w.t bukanlah tidak bersih hingga perlu disucikan. Maha Suci Allah itu sempurna kesucian-Nya sejak azali hingga kepada tanpa kesudahan. Dia tidak memerlukan makhluk untuk menyucikan-Nya dan tidak ada makhluk yang layak berbuat demikian. Begitu juga dengan sebutan Allah Maha Besar, bukan bermakna Allah s.w.t itu kecil hingga perlu diperbesarkan. Allah s.w.t sudah cukup besar, sempurna kebesaran-Nya, tidak perlu lagi diperbesarkan dan tidak ada makhluk yang layak memperbesarkan-Nya.

 Apa juga perbuatan makhluk tidak ada yang mengenai Allah s.w.t. Sebutan hanyalah pengakuan atau penyaksian semata-mata. Kita mengaku yang benar sebagaimana benarnya. Tenaga pengakuan, penerimaan dan ketundukan terhadap kebenaran inilah yang diperlukan oleh hati untuk menjadikannya kuat, bukan untuk faedah Tuhan. Memasukkan tenaga kebenaran ke dalam hati inilah yang dinamakan zikir. Tenaga kebenaran hendaklah dipalu keras-keras kepada tenaga ingkar yang membaluti hati. Apabila dihentam terus menerus tenaga ingkar itu tidak dapat bertahan lalu ia hancur. Bebaslah hati untuk menerima  cahaya kebenaran.

 Perlu diperingatkan bahawa fungsi zikir bukanlah untuk memecahkan hijab yang menutupi pintu langit. Kita tidak mahu terbang ke langit. Kita mencari kebenaran yang hakiki dan Kebenaran Hakiki bukan berada di atas langit. Ia berada di dalam diri kita sendiri. Hijab yang menutupi kita daripada Kebenaran Hakiki ini yang hendak dihapuskan.


Rangsangan atau gerakan yang datang daripada tenaga iblis, disampaikan kepada hati yang dibaluti oleh kegelapan nafsu, dalam keadaan hati merasakan bahawa ia datang daripada hati itu sendiri, bukan ia ditekankan oleh tenaga luar. Hijab nafsu menyebabkan hati tidak sedar dan tidak mengetahui yang ia sudah dikuasai oleh tenaga iblis. Apabila hijab nafsu itu berjaya disingkap hati mampu mengasingkan yang asli dengan yang mendatang. Setiap bisikan kepada kejahatan yang sampai kepada hati didengar oleh hati seolah-olah mendengar orang lain menyampaikan bisikan itu. Oleh itu hati mudah mengawasi bisikan yang datang itu. Beginilah suasana hati yang sudah disinari oleh cahaya kebenaran. Hati yang berada dalam cahaya mudah menyelamatkan dirinya daripada terjerumus ke dalam sifat-sifat dan perbuatan yang dimurkai Allah s.w.t.

HIKAM ATHAILLAH KE 34 SYARAH SYEIKH AL BUTHI : Keluarlah Engkau dari Sifat-Sifat Manusiawi yang Boleh Mencegah Ibadahmu (kepada Allah)

Menurut Kalam Hikmah ke 34 Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary:

“Keluarlah engkau dari sifat-sifat manusiawi yang boleh mencegah ibadahmu (kepada Allah). Agar boleh jawab panggilan Allah dan tambah dekat dengan-Nya”

Manusia sengaja diciptakan dengan bermacam-macam karakter. Tapi, semua karakter tersebut terintegrasi dalam 2 hal penting: yaitu positif dan negatif.

Karakter yang positif semisal suka menolong, berakhlak baik, menghormat yang tua, ramah pada teman sejawat dan penyayang pada yang muda.

Sedang karakter yang negatif semisal sombong, rakus harta, pendendam dan fanatik. Nah, karakter nombor 2 ini yang kita kenal dengan nama “nafsu”.

Setiap manusia pasti punya sisi positif dan negatif. Allah sengaja merancang manusia punya karakter yang sedemikian rupa (QS 91:7-8).

( 7 )   dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya),
( 8 )   maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.

Maka aturan yang benar adalah; karakter positif di lestarikan, sedang yang negatif di jauhi. Kenikmatan ibadah dengan Allah jangan diganggu nafsu. Sangat pas dengan wanti-wanti Ibnu Athaillah di pembukaan tadi, “Keluarlah dari sifat-sifat manusiawi yang bisa mencegah ibadahmu (kepada Allah)”.

Kalam hikmah ini mengajak kita untuk menjaga agar cara kerja karakter kita stabil. Kepribadian yang positif akan melahirkan hal positif pula. Lalu pertanyaannya, apa hikmah Allah menciptakan manusia plus nafsunya? Bukankah nafsu itu yang membuat manusia jadi celaka di dunia?

Apa pula tujuan Allah melekatkan mencipta karakter negatif, seraya menyuruh manusia agar jangan dekat-dekat dari pengaruh negatif nafsu itu? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sering hinggap di pikiran kita, tanpa disadari, kita telah agak lancang pada Allah. Lalu apa hikmahnya?

Jawabannya, kata al-Buthi, positif dan negatif karakter manusia itu sebenarnya punya potensi besar lho, jika kedua-duanya bisa ditundukkan. Coba bayangkan, seandainya Anda berhasil menaklukan nafsu sendiri, maka Anda akan bisa mengubah sikap egoisme jadi motivasi positif. Jika Anda kikir maka lawanlah sifat kikir itu, hingga ia takluk dan berubah jadi dermawan. Sifat pendendam akhirnya bisa jadi penyayang. Lawanlah sifat pemarah Anda, hingga ia jadi ramah. Lawan semua sifat yang menjerumuskan, hingga ia jadi kawan/teman yang menguntungkan.

Segala sifat yang konotasinya negatif, jika bisa dimanfaatkan sebaik mungkin, bisa jadi potensi besar yang menuntun pemiliknya menuju surga. Lalu bagaimana cara menaklukan sifat-sifat negatif tadi agar ia jadi jinak? Jawabannya, ada pada pendidikan yang baik dan konsep ilmu yang baik pula.

Sebab pendidikan yang berkualitas dan konsep ilmu agama yang mumpuni akan berpengaruh positif pada karakter unggul anak-anak didik dikemudian hari. Nah, disinilah pentingnya agama menekankan pendidikan yang benar sejak usia dini. Islam sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Paling tidak dengan cara pengajaran Islam yang benar, cara pandang anak-anak itu juga benar. Jika hal ini berhasil, Islam juga akan diuntungkan.

Dan bukan tidak mungkin konsep ilmu-ilmu modern saat ini juga bisa di-Islam-kan semuanya, asal disertai usaha yang kuat. Buktinya, ulama yang pakar dalam berbagai bidang ilmu, utamanya ilmu keagamaan, punya kedudukan yang tinggi di hati kalangan pemeluk Islam.

Sangat berbeda dengan framework atau cara pandang orang-orang barat, yang memisah agama dengan ilmu pengetahuan. Cara berpikir macam ini khas sekuler. Orang-orang yang tak tahu kaitannya pengembangan karakter diri dengan ilmu pengetahuan, kebanyakan tak percaya agama atau tak yakin dengan agamanya. Dalam istilah filsafat ada adagium begini: "Akhlak yang buruk tak akan pernah berubah jadi baik". Sekali buruk akan buruk selamanya.

Hal semacam ini tidak berlaku dalam Islam. Ajaran Islam sangat menekankan cara pengkaderan yang baik kepada seluruh pemeluknya. Segala usaha yang dilakukan untuk memperbaiki karakter penerus bangsa adalah sangat mulia dalam pandangan Islam. Ini karakter agama yang benar.

Kita punya pegangan yang nyata untuk mengarungi kehidupan ini: yaitu al-Quran. Allah menurunkan Al-Quran agar jadi petunjuk hidup kita. Jika ajaran-ajaran Islam yang mulia itu telah terintegrasi dan menyatu dalam setiap pribadi manusia, sungguh sangat indah alur hidup ini.

Coba Anda bayangkan saat tingkah laku, cara berpikir, cara mengatur bisnis dan segala kebutuhan kita selaras dengan al-Quran, maka karakter-karakter negatif akan melebur dan hilang secara sendiri dari diri kita. Yang timbul adalah sifat-sifat positif yang bisa memotivasi hidup.

Yakin pada segala yang di takdirkan Allah juga masuk dalam kategori ini. Keyakinan hati akan baiknya ketentuan Allah akan berbuah positif. Berbagai musibah yang Anda alami, jika disikapi dengan lapang dada, maka akan memunculkan kebijaksanaan dari dalam diri. Semua pasti ada hikmahnya.

Seorang yang sadar akan hikmah takdir Allah, maka tubuhnya akan merespon positif pada Allah. Tubuh akan terasa ringan saat beribadah. Ambil contoh hikmah Salat kita. Jika Salat telah jadi rutinitas dan kebutuhan diri, secara otomatis ia akan bisa mengconter hal-hal negatif.

Saat bahasa tubuh ini yang ada hanya Shalat, maka kepribadian tubuh akan tunduk. Jika tubuh tunduk, maka ia tak akan pernah sombong lagi. Begitu pula dengan segala rutinitas positif lainnya. Yakinkan hati bahwa semua itu akan berdampak positif bagi tubuh dan karakter kita.

Allah sengaja men-setting manusia dengan aturan-aturan Syariat, agar mereka jadi makhluk mulia. Agar karakter mereka tak sama dengan nafsu hewani. Nafsu yang liar, bebas dan tanpa aturan akan buat manusia jadi hina. Manusia dengan hewan tentu saja sangat berbeda.

Perumpamaan ini di sebuntukan Allah dalam QS 95:5, bahwa manusia yang selalu menuruti hawa nafsunya akan terbalik jadi orang yang paling hina.
“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)”

Maka Anda harus jadi diri sendiri, yang tak tergiur nafsu apalagi terbawa arus negatifnya. Agar Anda bisa semakin dekat dengan Allah.

“Keluarlah dari sifat-sifat manusiawi yang bisa mencegah ibadahmu (kepada Allah). Agar engkau bisa jawab panggilan Allah dan tambah dekat dengan-Nya”


HIKAM ATHAILLAH KE 34 SYARAH GURU LANANG : SUCIKAN HATI DARI BERBAGAI MACAM SIFAT YANG TERCELA

Menurut Kalam Hikmah ke 34 Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary:

Ukhruj min aushafi baysariyyatika ‘an kulli washfin munaaqishin li’ubuudiyyatika litakuuna linidaa-ilhaqqi mujibaan wamin hadhratihi qariibaan.

Artinya :

“Keluarlah kamu dari sifat-sifat kemanusiaan yang buruk dari sifat yang dapat merusak sifat kebudihanmu agar kamu berada untuk menyambut panggilan Dzat Yang Haq (Allah), dan dari khadirat-Nya adalah lebih dekat”.

Tidaklah dapat seseorang itu mendekatkan dirinya kepada Allah, melainkan dengan hati dan jiwa yang bersih dan suci. Maka akan mudahlah baginya untuk berkomunikasi dengan-Nya, mengadukan segala persoalannya dan sekaligus memohon pertolongan-Nya.

Perlu diketahui pula, bahwa sifat kemanusiaan yang berhubungan dengan agama itu ada dua macam, yaitu :

1. Bersifat lahir, yakni yang berupa gerakan-gerakan anggota badan atau yang biasa disebut dengan amal. Dan amal itu sendiri pun dibagi menjadi dua yaitu :
a.       Amal yang sesuai dengan perintah (taat).
b.       Amal yang menyimpang dari perintah (maksiat).

2. Bersifat batin, yankni berupa gerakan-gerakan hati atau yang disebut dengan janji. Janji ini juga dibagi menjadi dua, yaitu :
a.        Janji yang sesuai dengan hakikat, disebut ilmu dan Iman.

b.        Janji yang menyimpang dari hakikat, disebut munafik dan kebodohan. Dari uraian di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa keataatan dalam menjalankan perintah-Nya itu disebabkan karena adanya ilmu dan Iman. Sedangkan kemaksiatan itu disebabkan karena adanya sifat nifaq dan hati yang bodoh.

HIKAM ATHAILLAH KE 34 SYARAH SYEIKH ABDULLAH ASY- SYARQAWI AL KHALWATI : BUANGLAH SIFAT KEMANUSIAAN MU YANG TAK BAIK

Menurut Kalam Hikmah ke 34 Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary:

 “Keluarkanlah sifat-sifat kemanusiaanmu yang bertentangan dengan kehambaanmu agar kau mudah menyambut panggilan Yang Haq (Allah) dan dekat dengan-Nya”


Keluarkanlah dari dirimu sifat-sifat kemanusiaan yang tercela dengan riyadhah dan mujahadah; baik itu sifat-sifat tercela yang lahir (seperti suka melakukan gjibah, adu domba, membunuh, dan merampas) maupun yang batin (seperti sombong, ujub, riya’, sum’ah [ingin terkenal], dengki, gila harta dsb).
          
Jauhkan dirimu dari sifat-sifat yang bertentangan dengan prediakat kehambaanmu agar kau mudah menjawab seruan Yang Haq. Ketika kau berhasil mengeluarkan sifat-sifat tercelamu dan menyisakan sifat-sifat baikmu (seperti tawadhu’ [rendah hati] karena Allah, khusyuk dihadapan-Nya, takut kepada-Nya, dan ikhlas menyembah-Nya), maka disaat datang seruan kepadamu, “wahai hambaku!” kau pun akan dengan mudahnya menjawab, “Labbaik, Tuhanku!” Kau pun akan tulus dan ikhlas dalam menjawab seruan itu karena sifat-sifat yang bertentangan dengan kehambaanmu itu telah hilang darimu. Kau pun akan dekat dengan-Nya sehingga Dia akan menjagamu dari dosa dan memudahkan segala amalmu yang kelak akan kau nikmati hasilnya.
           
Ada perbedaan makna antara mahfuz (terjaga dari dosa) dengan lafal ma’shum (terlindungi dari dosa). Bedanya adalah ma’shum sama sekali tidak pernah menyentuh dosa, sedangkan mahfuz terkadang melakukan kesalahan dan kekeliruan, tetapi tidak selamanya demikian. Saat keliru, seorang mahfuz akan langsung bertobat.

Ketahuilah, dimata ahli tarekat, menjauhi sifat buruk dan memiliki sifat mulia merupakan hakikat dan tujuan suluk. Hal itu tidak akan bisa diraih, kecuali oleh orang yang diberi taufik dan bimbingan Allah untuk mengenali dirinya sendiri dan mengetahui sifat-sifat buruknya. Karena siapa yang sudah mengenali dirinya dan sifat-sifat buruknya, ia akan waspada dan berusaha menghindari sifat-sifat buruknya. Jika tidak demikian, secara tidak disadarinya, ia akan terjerumus ke dalam hal-hal yang dibenci Tuahnnya.