Catatan Popular

Sabtu, 3 Disember 2016

KITAB FATHUR RABBANI WACANA 1: JANGAN CUBA MEMBANTAH ALLAH AZZAWAJALLA



Percikan Cahaya Ilahi  dan Petuah Petuah Syaikh Abdul Qadir Jailani

OLEH SYEIKH ABD QADIR AL JAILANI (WALI AGUNG)

WACANA 1 JANGAN CUBA MEMBANTAH ALLAH AZZAWAJALLA


Pada Ahad pagi,  3 Syawal tahun 545 Hijriyah bertempat  di pondok.

As Syeikh Abdul Qadir Al Jailani bertutur :

“Berpaling dari Al-Haq Azza wa Jalla ketika takdir datang; itu boleh mematikan agama, mematikan tauhid, mematikan tawakal dan mematikan ikhlas. 
Bahwa hati orang Mu’min itu tidak boleh diketahui bagaimana dan mengapa; tidak boleh diketahui. 

Bahkan mukmin ketika itu berkata : “Ya, jiwa semuanya beselisih saling kontra; itu sebabnya barangsiapa hendak memperbaiki jiwa, hendaklah bersungguh-sungguh (bertekun atau mujahadah) menekan diri sampai terbebas dari keburukannya. Semua keburukan bertempat dalam keburukan. Kala engkau bertekun diri penuh ketenangan, semua yang bersemayam dalam jiwa jadilah baik. Karena proses terjadinya persesuaian itu berada dalam segala kepasrahan jiwa untuk menjauhi segala maksiat. Itu sebabnya pada jiwa dikatakan : “Wahai Jiwa yang tenang.” (Qs.Al-Fajr :27).

Kesucian jiwa adalah takwa, sedang pelepasan jiwa dari suci adalah keburukannya. Keburukan jiwa bukanlah karena manusia. Untuk membuktikan lihatlah kesucian jiwa yang bernasab dari nenek moyang Ibrahim as. 

Semua yang ada dalam jiwanya merdeka dari buruk dan tetap tanpa nasfu. Ia mengalir hatinya tenteram. Ia datang kepada makhluk yang bermacam ragam, mereka  memalingkan jiwa mereka dari Ibrahim untuk memberi pertolongan. Ia berkata : Aku tidak menghendaki pertolongan kalian untuk menyelamatkan daku. Manakala telah nyata keprasahan Ibrahim,
Allah berfiman “pada api” (wahai api) jadilah dingin dan membawa selamat untuk Ibrahim.” Pertolongan Allah tetap atas orang-orang sabar. Ia bersama Dia di dunia tanpa batas, dan kenikmatan-Nya di akhirat tanpa ukur. 

Firman Allah  : “Sesungguhnya (Allah) memberi pahala bagi orang-orang yang sabar tanpa mengenal batas.”(Az-Zumar:10)

Tidak ada kata tersembunyi bagi Allah, sesuatu pun yang terbebankan atas manussia berdasar kekuasaan-Nya. Bersabarlah bersama Dia setiap waktu, sedang engkau melihat kehalusan dan nikmat-Nya terlimpahkan atasmu.

Syaja’ah (menurut bahasa tasawuf berarti berani berkorban dalam rangka menegakkan kalimat Allah sepanjang masa), adalah sabar setiap masa. “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”(Q.S. Al Baqarah :153)

Dengan pertolongan dan pengharapan bersabarlah bersama Dia, jangan lupakan Dia, karena setelah engkau mati akan terbangun, dan hal itu tidak membawa manfaat bagimu.
Bangunlah untuk Dia sebelum kamu menjumpai-Nya, bangunlah sebelum engkau dibangunkan tanpa nyawa sehingga engkau menyesal. Waktu itu tidak beguna penyesalan.
Perbaikilah hatimu, karena jika hati sudah baik segala perilakumu pun baik; sebagaimana disabda Nabi saw. “Di dalam tubuh bani Adam terdapat segumpal daging, jika daging itu baik, maka baiklah semua anggota tubuh, jika daging itu buruk, maka buruk pulalah seluruh anggota tubuh, ingatlah ia adalah HATI”

Adapun hati itu baik bila diselimuti takwa, tawakal kepada Allah, mengesakan Dia, ikhlas dalam beramal dan yakin akan keruskan semua itu jika tidak ada tindakan-tindakan tersebut.
Hati itu laksana burung yang berada dalam sangkar, juga seperti permata dalam sarangnya. Adapun perumpaan burung dalam sangkar itu sama dengan permata tanpa sarang..

Wahai Allah, bersihkanlah organ tubuh kita dengan taubat, dan hati kita dengan ma’rifat kepada-Mu, sibukkanlah hidup kita sepanjang masa bersama-Mu, siang dan malam, dan luruskanlah kita melalui orang-orang shalih yang mendahului kita.

Wahai manusia, marilah kita berlemah lembut untuk Allah atas ketentuan Dia dan perbuatan-Nya. Maka haruslah kita junjung ketentuan-Nya itu. Bila kita telah berbuat demikian terhadap Dia berarti kita telah menjalin persahabatan menuju ketentuan Dia.
Firman Allah :
“Di sanalah pertolongan itu hanya dari Allah yang Haq.” (Q.S. Al-Kahf:44).
Jika engkau merasa segar minum dari samudera ilmu-Nya dan memakan dari rangkaian keutamaan-Nya, berjinak-jinak bersama kejinakan-Nya dan menghimpit dengan rahmat-Nya. Inilah batasan individu dari setiap sejuta “satu” meliputi seluruh keluarga dan golongan manusia.

Wahai sahaya peliharalah takwa, periharalah hukum syari’at, siagakan dirimu untuk lawan dengan nafsu, hawa, setan dan teman buruk. Mukmin dalam misinya berjihad dengan hal-hal tersebut akan membuka kepalanya dari ketopong perang, sehingga tidak terlimputi pedangnya, tidak telanjang punggungnya dari sinar penerang.
Engkau jika memperbanyak tidur seperti tidurnya mereka itu boleh mengalahkan santapan mereka mempersempit bicara mereka. Tingkah laku mereka jadi kelu.
Sesungguhnya Kuasa Allah berlaku atas mereka, karena Allah juga bersabda kepada mereka, sedang mereka menggerakkan pembicaraan di dunia seperti bicara masing-masing organ tubuh  di hari kiamat; setelah mereka dibicarai oleh Allah.
Bicara mereka tetap seperti sedia kala ketika masih di dunia. Meliputi sebab-sebab mengapa mereka bicara. Jika mereka menghendaki sesuatu tindakan segera terlaksana. Mereka hendak menyampaikan misi kepada manusia dengan berita takut dan gembira, bukan menyampaikan kata salah kepada mereka; maka para Nabi dan Utusan sama bicara. Katika mereka dicabut  kembali kepada Dia tumbuhlah Ulama’ dengan disiplin ilmu mereka bicara  mereka  mengganti kedudukan para Nabi dan Rasul,
Nabi saw. bersabda : “Ulama adalah pewaris para Nabi.”(Riwayat Ibnu Majah)

Wahai manusia bersyukurlah kepada Allah, atas pelbagai nikmat karunia-Nya dan lihatlah (perhatikan) kekuasaan-Nya melalui nikmat itu.
Sesungguhnya Dia berfirman :“Dan sesuatu nikmat yang ada padamu hanyalah dari Allah.”(Q.S. An-Nahl:53)
Di manakah rasa syukurmu, wahai para pemutar balik nikmat Allah. Wahai, siapa orang yang meilhat nikmat datang dari selain Allah? Adakalanya engkau melihat bahwa nikmat Dia terasa datang bukan dari-Nya, tetapi suatu ketika engkau menghadap-Nya dan melihat akan kekosongan dirimu. Terkadang engkau minta tolong kepada-Nya dengan menentang-Nya.

Wahai manusia engkau butuh kesunyianmu terjaga dari kemaksiatan, kegoncangan jiwa dan keterkejutan yang membawa peringatan bagimu, padahal Allah melihat kamu.
Mengapa engkau butuh mudharat ini ada padamu dalam kesunyianmu, lalu kamu juga butuh membinasakan nafsu, hawa, dan setan, Kebesaran manusia itu runtuh karena kegoncangan jiwa, karena kecerdasan berfikir (kecepatan otak) dan perlintasan hati dalam kesunyiannya, sedang runtuhnya kebenaran itu pada kerlip mata. Bandingkan kesibukan mereka, mampu melatih jiwa mereka, karena itu mereka tidur di pintu para penguasa.

Wahai hamba, engkau jangan bersama nafsu, hawa, dunia dan jangan pula dengan yang lain yang engkau ikuti selain Al-Haq. Jika engkau bertaubat, bertaubatlah secara lahir dan batin. Taubat itu pusat perputaran hati. Tanggalkanlah baju kemaksiatan ganti dengan taubat-taubat ikhlas, cinta kepada Allah itu sebagai hakikat bukan arti kias.
Demikian rupa perbuatan hati setelah penyucian anggota tubuh dengan syari’at. Hati baginya sebagai amalan. Hati kala keluar dari lingkaran sebab lalu bergantung pada watak ia mengendarai bahtera tawakkal dan ma’rifat kepada Allah, mengakui Dia. Meninggalkan sebab untuk mencari pendatang sebab. Maka kala ia telah sampai ke tengah samudera ini di sanalah ia menemukan firman-Nya :
“Dia yang menciptakan aku dan Dia pula yang memberi petunjuk.”(Q.S. Asy-Syu’ara:78)
Jika demikian maka tertujuki ia dari pantai ke pantai, dari satu tempat ke tempat lain. Sampai engkau terhenti pada kebenaran yang tegak. Kala disebut Asma Tuhan tampaklah kebesaran-Nya dan terbukalah gelap gulita dari mengenalnya.

Wahai hamba, bila sakit menimpamu, hadapilah dengan tangan terbuka  penuh sabar. Bertahanlah sampai datang obat. Jika pengobatan telah datang terimalah dengan rasa syukur. Kalau kamu demikian tentulah hidupmu di permudah.
Takut api neraka itu sebagai jalan yang boleh memutus derita orang-orang mukmin, berdampak membawa kekuningan di wajah mereka dan kesedihan di hati mereka.
Bilamana hal ini sangat mungkin terjadi pada mereka niscaya Allah menuangkan air rahmat dan karunia dalam hati mereka. Baginya dibukakan pintu akhirat. Sehingga ia melihat kebenaran janji yang disampaikan kepadanya. Bila mereka telah bertempat, berdiam dan beistirahat sedikit niscaya bagi mereka dibukakan pintu Kagungan, sehingga patahlah hati dan rahasia mereka, sebaliknya rasa takut lebih kuat dari yang datang pertama kali. Jika hal ini telah sempurna atas mereka niscaya mereka dibukakan pintu kebaikan, lalu mereka berdiam di sana penuh ketenangan, selalu jaga dan mendapat derajat, yaitu satu tingkat setelah satu tingkatan.

Wahai hamba, jangan jadikan himmahmu (kemahuan kuat) sesuatu yang kau makan, yang engkau minum, yang engkau pakai, yang engkau kawini, yang engkau diami dan yang engkau kumpul.
Setiap permasalahan tersebut adalah kepentingan nafsu dan watak kemanusiaan saja. Lalu di manakah himmah hati, rahasia, yaitu mencari kebenaran Azza wa Jalla.
Himmah haruslah sesuatu yang engkau pentingkan. Maka jadikanlah kepentinganmu untuk bertaubat kepada Allah dan apa yang ada pada-Nya.

******
Dunia adalah pengganti, yaitu pengganti akhirat, bagi makhluq oleh Al Khaliq. Kala engkau tinggalkan sesuatu dari dunia ini maka terbaharui penggantinya, bahkan lebih baik daripada dunia. Perkiraan bahwa selisih usiamu pada hari ini sudah cukup untuk persiapan akhirat, yaitu dalam menghadapi Malaikat Maut. Dunia adalah bagaikan barang masakan yang disediakan untuk manusia, dan akhirat sebagai kehidupan mereka. Manakala datang kecemburuan dari Allah terjadilah pemisahan antara mereka dan dunia, dunia lalu menempati tempat akhirat.

Wahai pendusta, engkau katakan cinta Allah dalam keadaan yang penuh nikmat, tetapi ketika datang cobaan engkau lari, seakan dalam jiwamu tidak ada rasa cinta kepada Allah. Hanya orang disebut hamba yang menunjukkan ikhtiar menakala cobaan Allah datang kepadanya lalu ia tetap bertahan dan mempertahankan cinta Dia. Jika hal ini sampai berubah dengan adanya dustamu maka tercabutlah yang pertama dan lenyap.
“Wahai Tuhan kami, berilah kami di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan dan peliharalah kami dari api neraka.”(Q.S. Al-Baqarah:201)

Ahad, 20 November 2016

PENYAIR SUFI : ABU AL ATAHIYAH (W. 211 H/ 828 M),



       Seorang penyair zuhud sezaman dengan Abu Nawas. Ia terkenal akan kezuhudannya, dengan syair-syairnya ia banak memberikan peringatan-peringatan yang jujur kepada penguasa waktu itu ( khalifah Harun Ar Rasyid), sehingga kadang sang khalifah tersedu-sedu mendengar ajaran yang diberikan lewat sair-sairnya.

       Nama Ismail bin Qosim bin Suweid al Anzi, panggilanya Abu Ishak, dan terkenal dengan nama Abul Atahiyah, karena konon sering merasa bingung. Masa kecilnya tinggal di Kufah dan kemudian menetap di Baghdad. 

       Ia selalu mempunyai hubungan yang baik dengan para khalifah, sehingga dirinya sangat dikenal oleh mereka. Ia pernah meninggalkan profesi sebagai penyair, tetapi kemudian kembali lagi menjadi penyair. Ia orang yang sangat tanggap dan dalam syair-syairnya banyak kreasi baru. Dalam sehari ia mampu membuat 100 bait. Diantara syair-syairnya yang terkenal dan sangat bagus adalah masalah kezuhudan, kata-kata mutiara, peribahasa dan nasehat.
     
 Ia meninggal di Baghdad.

Peranan & Pemikiran

      Ia merupakan penyair zuhud yang terkenal pada zaman khalifah Harun al rasyid dan sering mengingatkan sang khalifah apabila lalai.Apabila sang khalifah sudah sampai kegembiraan, sehingga lupa akan kewajibannya dan kemiskinan rakyat, ia dengan syairnya memberikan peringatan-peringatan yang jujur. Sehingga kadang-kadang Harun Al rasyid tersedu-sedu mendengarkan ajaran yang diberikannya.
      Para ahli sejarah tidak berhasil mengumpulkan semua syair-syairnya, karena jumlahnya sangat banyak. Imam Yusuf bin Abdullah al Qurthubi menulis syair-syair beliau dalam satu jilid. Manuskripnya masih ada hingga sekarang di perpustakaan Mesir dan belum diterbitkan.
      Salah seorang sastrawan kristen pernah membaca dan menyalinnya, dan menyusun syair-syairnya berdasarabjad hijaiyah dan menerangkan sebagian kata-katanya yang diberi judul Al Anwar az Zahiyah fi Diwan Abil Atahiyah.

NASEHAT ABUL 'ATAHIYAH

" ( Jangan Terpedaya dengan Gemerlapnya Dunia )

Sepotong roti kering yang engkau makan di pojokan….


Dan secangkir air dingin yang kau minum dari mata air yang jernih….


Dan kamar sempit yang meraja jiwamu kosong di dalamnya…


Atau mesjid yang terasing dan jauh dari manusia, lalu engkau berada di sudut mesjid tersebut…


Engkau membaca Al-Qur'an sambil bersandaran di sebuah tiang mesjid…


Seraya mengambil ibroh/pelajaran dari kisah-kisah orang-orang terdahulu yang telah tiada…


Itu lebih baik daripada berlama-lama di dalam istana-istana yang megah…


Yang akhirnya mengakibatkan dosa yang menyebabkan engkau masuk dalam api yang panas…
Ini adalah washiatku yang mengabarkan tentang dirinya…


Sungguh beruntung orang yang mendengarnya…demi Allah washiat ini sudahlah cukup (memberi pelajaran…)


Maka dengarlah nasehat orang yang sayang dan khawatir kepadamu yang dikenal dengan Abul 'Ataahiyah..


Sungguh indah sya'ir Abul 'Ataahiyah di atas, terutama bagi yang mengerti bahasa arab. 

Sedikit waktu yang disempatkan untuk membaca Al-Qur'an di pojokan mesjid jauh dari pandangan manusia…

Ternyata jauh lebih bernilai dari kemegahan istana yang hanya sementara.

Benarlah jika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan ;

"Sholat sunnah dua rakaat qobliah subuh lebih baik daripada dunia dan seisinya"

Janganlah terpedaya dengan kenikmatan dunia…sesungguhnya ia adalah kenikmatan yg semu dan sementara…

Ingatlah akan kenikmatan akhirat yg jauh lebih baik dan abadi.

Jika seseorang di suruh memilih mendapatkan kenikmatan secangkir susu, akan tetapi kapan saja bisa ia minum dan tersedia, atau memilih kambing guling akan tetapi hanya sekali saja bisa santap, tentu orang yg berakal akan memilih secangkir susu –meskipun sedikit- akan tetapi terus tersedia selama puluhan tahun, kapan saja siap untuk diminum.

Maka bagaimana lagi jika perkaranya sebaliknya…kambing guling yg terus siap tersedia kapan saja bisa disantap, dibandingkan dengan secangkir susu yg hanya bisa sekali diminum??

Bagaimana lagi dengan hanya secangkir air putih…???

Demikianlah…kenikmatan dunia selain sedikit iapun fana dan akan sirna. 

Adapun kenikmatan akhirat sangat banyak dan abadi…

Jika engkau terpedaya dan terkagum-kagum bahkan kepingin tatkala melihat kenikmatan dan kemewahan benda-benda dunia, sedangkan engkau sedang menghadapi sulitnya kehidupan dunia maka agar engkau tidak terpedaya… ucapkanlah doa yg diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam


"Yaa Allah tidak kehidupan yg hakiki kecuali kehidupan akhirat" (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Doa ini Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ucapkan tatkala Nabi dan para sahabat kaum muhajirin dan anshor sedang menggali parit dalam perang Khandak, sementara perut-perut mereka keroncongan karena kelaparan, bahkan mereka mengikatkan batu ke perut- perut mereka untuk menahan rasa lapar.

Nasehat Syair Abu al ‘Atahiyah

Tatkala pintu-pintu rizki terbentang pada masa Abbasiyah, banyak manusia terfitnah dengan harta dan kekayaan. Mereka pun condong kepada permainan dan kemewahan serta menjauh dari amal shalih yang kelak akan memberikan manfaat pada akhirat mereka. Hal itu membuat para ulama, pemberi nasehat dan penyair untuk menyeru manusia agar beramal shalih dan bersikap zuhud di dunia ini. Karena hal itu akan mengantarkan mereka pada jalan keselamatan dari adzab di hari akhir kelak.
Dan diantara penyair yang terkanal dengan zuhud adalah Abu al ‘Atahiyah, yang mempunyai nama lengkap Ismail bin al Qasim bin Suwaid Abu Ishaq. Ia lahir pada tahun 130 H / 748 M dan meninggal di Baghdad pada tahun 211 H / 868 M. 

Dia mengajak manusia untuk memikirkan kematian dan beramal untuk akhirat dengan bait syairnya.
 Duhai, sungguh manusia sangat mengherankan!, seandainya mereka mau berfikir dan mengintrospeksi diri, mereka akan tahu (bahwa dunia adalah tempat singgah)
Dan mereka akan menyeberang dunia menuju tempat lain (akhirat), karena dunia tiada lain hanyalah jembatan!
Sesungguhnya kebaikan, yang tidak samar lagi, adalah semua hal yang diperintahkan Allah dan kejelekan adalah  segala yang diingkari
Kematian adalah suatu kepastian dan setelahnya adalah dikumpulkannya manusia di padang mahsyar (untuk dihisab), dan itulah janji terbesar..
Tidak ada kebanggaan kecuali kebanggaan ahli taqwa, esok tatkala manusia dipertemukan satu sama lain di padang mahsyar
Agar manusia mengetahui bahwasannya ketaqwaan dan kebaikan adalah harta simpanan terbaik
Sungguh aku heran terhadap manusia yang sombong lagi congkak, sementara esok mereka akan dikubur dalam tanah
Apalah artinya kesombongan bagi sesuatu yang awalnya adalah setetes mani dan akhirnya adalah bangkai ?!
Dia tidaklah mampu menyegerakan hal yang ia senangi, tidak pula mengakhirkan urusan yang ia benci !!
Dan semua urusannya kembali pada Allah, segala hal yang telah ditetapkan dan ditakdirkan


Sungguh menakjubkan,
Apabila manusia memikirkan,
Mengoreksi diri dan menghitung hitung kesalahan,
Sadar diri penuh pemaham.

      Dan niscaya mereka tinggalkan dunia,
      Menyeberang ke negeri lainnya.
      Bukankah dunia ini bagi mereka,
      Sekadar jembatan menuju kesana?

Tiada kemuliaan yang patut dibangga,
Selain kemuliaan orang yang takwa,
Esok saat berkumpul mereka,
Di padang Mahsyar yang perkasa.

       Hendaklah manusia sekalian
       Menyadari benar tentang kenyataan,
       Bahwa takwa dan kebajikan
       Adalah sebaik baik harta simpanan.
.

PENYAIR RASULULLLAH SAW : NABI HASAN IBN AL TSABIT



Ada tiga nama Sastrawan terkenal di sekeliling Nabi, yakni

1) Hasan Ibn Tsabit,

2) Ka'ab Ibn Malik dan

3) 'Abd Allah Ibn Rawahah.

Selain itu, terdapat juga sejumlah nama sahabat Nabi yang mempunyai karya dalam bidang sastra, seperti Abu Bakar al-Siddiq, Umar ibn Khattab, Utsman ibn Affan, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, dan Mu'awiyah Ibn Sufyan. 


Hassan bin Tsabit  

     Rasulullah saw seringkali memuji karya-karya Hassan bin Tsabit. Karena dengan syairnya, Hassan membela Rasulullah saw dan menangkis hinaan dan celaan orang-orang Quraisy. Bagi orang-orang Quraisy sendiri syair Hassan ibarat tombak yang merobek tabir aib dan cacat mereka sehingga mereka pun terdiam membisu tidak mampu menjawab.
       
Hassan bin Tsabit al-Anshari merupakan seorang sahabat yang berumur panjang, setengah umurnya dia habiskan pada masa jahiliyah dan setengah lagi dia jalani bersama Islam. Hassan adalah salah seorang penyair Arab papan atas pada masanya, setelah dia masuk Islam dia menggunakan syairnya untuk kepentingan Islam dan membela Rasulullah saw dari celaan musuh-musuh beliau, sampai-sampai beliau bersabda, “Balaslah hinaan mereka, ya Allah dukunglah dia dengan Ruhul Qudus.” Hassan wafat tahun 54 H.

       Imam Muslim dalam kitab Fadhail Ashhab al-Nabi, Bab Fadhlu Hassan Ibn Tsabit meriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah saw bersabda, “Kritiklah orang-orang Quraisy karena ia lebih berat bagi mereka daripada lemparan anak panah.” Nabi saw mengundang Ibnu Rawahah, beliau bersabda, “Kritiklah mereka.” Lalu Ibnu Rawahah melakukan tetapi tidak memuaskan Rasulullah saw.
Kemudian Nabi beliau meminta Kaab bin Malik, namun Rasul pun belum merasa puas. Maka datanglah Hassan bin Tsabit, Rasulullah pun berkata, “Saatnya bagi kalian mengutus kepada singa yang memukul dengan ekornya ini.” Hassan pun termenung sejenak mencari inspirasi, tak lama kemudian lidahnya bergerak dan dia berkata, “Demi dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku akan mencincang mereka dengan lisanku seperti kulit yang dicincang.” Rasulullah saw bersabda, “Jangan terburu-buru, Abu Bakar adalah orang Quraisy yang paling mengetahui nasab Quraisy, nasabku berasal dari mereka, biarkan Abu Bakar menjelaskan nasabku kepadamu.” Lalu Hassan datang kepada Abu Bakar, kemudian dia kembali dan berkata, “Ya Rasulullah, dia telah menjelaskan nasabmu kepadaku, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku akan mengeluarkanmu dari mereka seperti sehelai rambut yang dikeluarkan dari adonan.” Aisyah berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda kepada Hassan, “Sesungguhnya Ruhul Qudus selalu mendukungmu selama kamu membela Allah dan rasulNya.”
Aisyah berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Hassan mengkritik mereka dan mereka terdiam tanpa mampu membalas.” Hassan berkata,
Kamu menghina Muhammad maka aku membelanya
Dan di sisi Allah-lah balasan dari semua itu

Kamu menghina Muhammad yang baik lagi bertakwa
Seorang utusan Allah yang selalu menepati janji

Sesungguhnya bapakku, ibuku dan kehormatanku
Adalah pelindung bagi kehormatan Muhammad dari kalian

Aku kehilangan anak perempuanku jika kalian tidak melihat
Kuda-kuda kami mengepulkan debu di dataran Kada`

Kuda-kuda itu terbang berlomba dengan tali kekangnya
Dengan tombak haus darah yang terhunus di balik lehernya

Kuda-kuda kami terus berpacu dengan kencang
Membuat para wanita mengibaskan debu dari kerudung mereka

Jika mereka membiarkan maka kami berumrah
Dan itulah kemenangan serta tersingkapnya tabir

Jika tidak maka hadapilah peperangan suatu hari
Di mana Allah akan memuliakan siapa yang Dia kehendaki

Allah berfirman, Aku telah mengutus seorang hamba
Yang berkata benar tanpa ada kesamaran

Allah berfirman, Aku telah mengirim pasukan
Orang-orang Anshar yang terbiasa berperang

Apakah orang yang menghina Rasulullah dari kalian
Dengan orang yang memuji dan menolongnya adalah sama

Jibril Utusan Allah ada di pihak kami
Ruhul Qudus yang tidak memilki tandingan.

Hassan ibnu Tsabit - Penyair pembela Rasulullah


Ibnu Abuz Zanad meriwayatkan dari ayahnya, dari Abu Hurairah r.a, dari Aisyah r.a, bahawa Rasulullah S.a.w telah meletakkan sebuah mimbar di dalam masjid khusus buat Hassan ibnu Tsabit r.a, tempat untuk bersyair bagi membela Rasulullah S.a.w; dan Rasulullah S.a.w berdoa untuknya;

"Ya Allah, perkuatkanlah Hassan dengan Ruhul Qudus (Malaikat Jibril), sebagaimana dia berjuang membela Nabi-Mu (melalui syair-syairnya)."

Lafaz hadis ini yang dari Imam Bukhari secara ta'liq. Akan tetapi, Imam Abu Daud meriwayatkannya pula di dalam kitab Sunan-nya dari Ibnu Sirin, dan Imam Turmudzi meriwayatkannya dari Ali ibnu Hujr dan Ismail ibnu Musa Al-Fazzari. Ketiga-tiganya mengenengahkan hadis ini dari Abu Abdur Rahman ibnu Abuz Zanad, dari ayahnya dan Hisyam ibnu Urwah; keduanya meriwayatkan hadis ini dari Urwah, dari Aisyah dengan lafaz yang sama. Imam Turmudzi mengatakan bahawa sanad hadits ini berstatus hasan atau sahih, yakni hadits Abuz Zanad.

Di dalam kitab Shahihain disebutkan dari hadits Sufyan ibnu Uyainah, dari Az-Zuhri, dari Sa'id ibnul Musayyab, dari Abu Hurairah r.a, bahawa Khalifah Umar ibnul Khattab melewati Hassan ibnu Tsabit yang sedang mendendangkan syair di dalam masjid, maka Umar r.a mendesaknya, lalu Hasan berkata, 

"Sesungguhnya aku pernah mendendangkan syair di dalam masjid ini, sedangkan di dalamnya terdapat orang yang lebih baik daripada kamu (yakni Nabi Saw.)." 

Kemudian Umar ibnul Khattab r.a. menoleh kepada Abu Hurairah dan berkata, "Kumohon atas nama Allah, pernahkah engkau mendengar Rasulullah S.a.w bersabda;

"Perkenankanlah bagiku, ya Allah, kuatkanlah dia (Hassan) dengan Ruhul Qudus (Malaikat Jibril)?" 

Maka Abu Hurairah menjawab, "Allahumma, na'am (ya)." 

Menurut sebahagian riwayat, Rasulullah S.a.w pernah bersabda kepada Hassan; 

"Seranglah mereka atau hinakanlah mereka dengan syairmu, semoga Jibril membantumu."

Di dalam syair Hassan terdapat ucapan berikut;

Dan Jibril utusan Allah berada bersama kami,
dia adalah Ruhul Qudus yang tidak diragukan lagi. 

[Imam Ibnu Katsir - Tafsir Ibnu Katsir, surah al-Baqarah : ayat 87]


Rasulullah tidak pandai bersyair, dan benci syair yang melalaikan

"Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad), dan bersyair itu tidak layak baginya, yang Kami wahyukan kepadanya itu tidak lain melainkan nasihat pengajaran dan Kitab Suci yang memberi penerangan." [Surah Yasin : ayat 69]

Allah memberitahu bahawa Dia tidak mengajari Nabi Muhammad S.a.w syair. Yakni, syair itu bukan bakatnya sehingga dia bukanlah ahli, tidak menyukai, dan tidak menjadi tuntutan nalurinya. Kerana itu ada hadits yang mengungkapkan bahawa Nabi S.a.w tidak mampu menggubah satu bait pun. Bahkan, bila baginda S.a.w menyenandungkannya, malah mengubah nadanya atau baginda tidak menyelesaikannya.

Said ibnu Abi Urwah meriwayatkan dari Qatadah, Aisyah r.a ditanya, "Apakah Rasulullah S.a.w pernah menyenandungkan syair?" Aisyah menjawab, "Syair (yang buruk) merupakan pembicaraan yang sangat dibencinya. Memang beliau pernah menyenandungkan sebuah bait karya saudara Bani Qais. Namun beliau menjadikan permulaannya sebagai akhir dan akhirnya sebagai permulaan. Kemudian Abu Bakr r.a berkata, "Wahai Rasulullah, puisi itu bukan begitu." Kemudian beliau bersabda, "Demi Allah, aku bukan seorang penyair dan syair itu tidak layak bagiku."  [HR Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir]

Namun ada pula syair yang disyariatkan, iaitu yang ditujukan untuk mengejek kaum Musyrik. Puisi sedemikian digubah oleh penyair Islam seperti Hassan ibnu Tsabit, Ka'ab ibnu Malik, Abdullah ibnu Rawahah dan sebagainya. Semoga Allah meredhai mereka semua. Di dalam syair (puisi) pun terdapat hikmah, nasihat dan etika, sebagaimana isi sebegini pun dijumpai dalam syair-syair jahiliyah, di antaranya dalam syair Umayah ibnu Abi ash-Shalut yang dikomen oleh Rasulullah S.a.w dengan, "Syairnya beriman, namun hatinya kafir."

[Imam Ibnu Katsir - Tafsir Ibnu Katsir, surah Yasin : ayat 69]



"Dan ahli-ahli syair itu, diturut oleh golongan yang sesat. Tidakkah engkau melihat mereka merayau-rayau dengan tidak tentu hala di tiap-tiap lembah (khayal dan angan-angan kosong)?  Dan mereka memperkatakan apa yang mereka tidak melakukannya. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh (dari kalangan penyair-penyair itu), dan mereka pula mengingati Allah banyak-banyak, serta mereka membela diri sesudah mereka dianiaya, dan (ingatlah), orang-orang yang melakukan sebarang kezaliman, akan mengetahui kelak ke tempat mana mereka akan kembali." [Surah as-Syua'raa' : ayat 224 - 227]